Siapkah Sekolah Dibuka Saat Covid19 Masih Belum Usai ?

Posted on
karakteristik peserta didik
gambar via pixabay.com

Pemerintah sudah berencana untuk membuka kembali sekolah setelah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) secara nasional berangsur dilonggarkan. Meski beberapa ahli masih ada yang belum setuju termasuk dokter anak, karena sangat beresiko, tapi keputusan dimulainya tahun ajaran baru tetap awal Juli dengan protokol kesehatan.

Pro dan kontra memang mewarnai rencana pembukaan kembali sekolah saat kasus Covid di Indonesia belum menurun. Dalam 2 bulan anak-anak belajar dari rumah, banyak keluhan entah dari Guru, murid hingga orangtua.

Pembelajaran secara daring memang mau tidak mau harus dilakukan meski hal ini baru pertama dilakukan para guru, sehingga yang terjadi banyak guru yang hanya memberikan tugas-tugas saja untuk dikerjakan dan dikumpulkan secara daring. Jika tiap guru mapel memberi tugas, maka anak-anak juga kesulitan, pada akhirnya mereka merengek kepada orangtua untuk membantu mengerjakan, sedangkan banyak orangtua juga tidak memiliki tingkat pengetahuan yang cukup, lagipula cara mengajar anaknya sendiri jg tentu beda dengan cara guru mengajar.

Keadaan ini akan menyebabkan pembelajaran menjadi kurang efektif, hanya satu dua anak yang memang memiliki motivasi dan kemauan kuat untuk belajar yang ditunjang oleh orangtuanya, selebihnya kemungkinan menganggap “remeh” tugas-tugas itu, godaan gadget dan bermain akan lebih kuat dibanding mengikuti pembelajaran daring.

Awal Juli anak-anak akan masuk sekolah kembali dengan kehatian-hatian yang tinggi. Protokol kesehatan harus diterapkan oleh sekolah meliputi jaga jarak, menyediakan tempat cuci tangan beserta sabun yang cukup, penggunaan masker atau bahkan face shield dan masuk sistem shift jika muridnya banyak.

Baca juga : Inilah Media Belajar Online Paling Direkomendasikan Kemdikbud

Meskipun begitu resikonya memang sangat besar apalagi jika di daerah tersebut masih rawan atau termasuk zona merah. Kita bisa membayangkan bagaimana anak-anak tersebut di sekolah bila bertemu teman-temannya, mereka akan bergerombol tanpa tahu bahayanya. Orang dewasa saja masih sulit untuk diatur apalagi jika masih anak-anak. Jika salah satu saja diantara mereka ada yang positif, maka penyebarannya sangat cepat dan banyak dan membentuk kluster baru. Jika itu terjadi di banyak sekolah, maka akan banyak kluster covid dan menyebabkan gelombang kedua yang membahayakan anak-anak dan para guru.

Ini memang dilematis, jika dirumah terus juga akan mempengaruhi sistem pembelajarannya, namun bila sekolah tetap dibuka juga akan beresiko besar. Kita berharap yang dikhawatirkan tidak terjadi, namun kehati-hatian juga sangat perlu sehingga butuh komitmen kuat untuk menerapkan protokol kesehatan di sekolah masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *